Jumat, 21 Oktober 2016

Aku Berhenti




Hati apakah kau tau, aku masih menyimpan nama seseorang di sini
Hati apakah kau tau, aku masih mengingatnya di dalam diri
Hati apakah kau tau, aku selalu merindunya dalam sanubari
Hati apakah kau tau, rasa ini tak pernah pudar meski waktu telah terlewati

Aku hanya bisa menyimpannya dalam kebisuanku
Aku hanya bisa menyimpannya dalam rinduku
Aku hanya bisa menyimpannya dalam angan semuku
Semuanya hanya ku rajut dalam syahdu
Semuanya hanya ku tulis dalam kalbu

Di antara kita slalu terbentang jarak
Layaknya lautan yang selalu berombak
Hingga kini aku tak mampu menggapai
Sosok diri yang slalu menyelimuti diri

Melangkah pergi
Menjauhi diri
Mematikan setiap rasa di hati
Melupakan seseorang yang begitu berarti

Diri ini telah letih
Diri ini telah lelah
Berharap di antara kita terjadi kisah
yang kan berakhir indah

Biarlah rasa itu berhembus pergi
Sabarkan diri ini
Hingga sampai batas waktu yang terlewati
Agar hadirnya tak ku harapkan lagi...

Minggu, 10 Juli 2016

10 July 2016

Sudah 1 tahun nggak posting, cuma pengen cerita-cerita aja sih tentang apa yang sedang saya alamin saat ini. yaa sekedar cerita hati saja....
Hmm saat ini saya tidak tau apa yang harus saya lakukan. Cuma lagi berpikir kalau setiap orang pasti butuh waktu untuk sendiri. Butuh waktu untuk memperhatikan dirinya sendiri. Yaa, tidak masalah sih, saya juga membutuhkan waktu untuk itu.
Saya tidak mau duluan, itu terserah saja sih. Jika sudah merasa siap, saya masih menunggu kok. Saya bisa belajar untuk melupakan semuanya. Saya bisa belajar untuk tidak berharap lagi. Bagi saya, semuanya bisa menjadi biasa. Hanya soal waktu untuk membuat semunya jadi biasa.
Mungkin suatu saat nanti, perasaan saya bisa jadi "biasa". Sebenarnya saya tidak mau, belum bisa dan masih berharap (hahaha). Tapi yaaa, keadaanlah yang memaksa saya untuk seperti ini (mau tidak mau yaaa harus bisa). Yang dirasa sudah tidak ada lagi kenyamanan dengan diri saya. Saya sih tidak masalah, dibikin cuek aja (mati rasa haha). Saya sadar, sesuatu bisa menjadi sangaaaattt membosankan. Saya juga sadar, suatu hari nanti saya hanya akan menjadi pelampiasan. Hanya untuk meluapkan duka. Bukan untuk meluapkan bahagia (mungkiiiinnnn).
Saya tau, saya bukan lagi yang diharapkan. Karena saya dianggap memiliki pilihan hidup yang berbeda, dan saya mungkin bukan menjadi pilihannya (sifat saya yang mungkin tidak disukai). Saya memang seperti ini, sifat saya memang seperti ini, tak mungkin saya harus menjadi orang lain kan. Tapi, memang kita berbeda, saya tak diharapkan. Saya bukannya ingin berbeda, tapi tidak bisakah jika saya hanya ingin mencoba sesuatu yang saya anggap menyenangkan?
Saya merasa nyaman sehingga saya menjadi lebih perhatian dan yaaa mungkin terlalu mengekang, saya tau saya bukan siapa-siapa. Tapi, saya hanya ingin memperdulikan bukan bermaksud yang lain, apakah saya tidak bisa mengkahwatirkan dirimu? Bisakah hanya untuk sesaat saya peduli, khawatir, marah, cerewet, melakukan apapun dengan dirimu tanpa harus memperhatikan status yang memang tidak melekat pada diri kita? Yaaa hanya mungkin sihhhhhh...
Ketika saya harus sendiri, seperti saat ini, saya tidak masalah (saya sudah terbiasa). Saya bisa berusaha mencari hiburan (berusaha melupakan semuanya). Saya tidak peduli jika saya sudah tidak dianggap lagi karena ada yang lebih menyenangkan dari diriku (hanya bisa tersenyum, karena pada akhirnya memang kita hanya untuk dipertemukan). Daripada saya harus menuai sakit hati, lebih baik saya sendiri, melupakan segalanya, tetap tersenyum tanpa beban, dan tidak berpikiran negatif.
Saya memang sedang dalam proses untuk memahami hidup. Saya memang terlalu kekanakan (manja juga sih, cerewet). Tapi, saya bisa lebih dari ini. Saya tak akan mengganggu hidupmu, biarlah kamu pergi dan tidak berpaling lagi. Saya hanya menunggu. Semoga saja tidak berubah jadi biasa. Karena saya tidak tau, berapa lama saya sanggup seperti ini, jujur saya masih berharap walau saya tau saya akan dikecewakan lagi.
Jika nanti telah jadi biasa, mungkin saya akan pergi. Saya rasa itu lebih baik buat semua. Mungkin saya tak akan berkata, tapi tak akan ada lagi saya untuk dirimu, karena saya sudah berjalan perlahan dan telah jauh ketika kamu sadar......









Aku Tau Diri

Tenang, aku tau diri kok,
ini bukanlah sebuah keseriusan yang patut diperhitungkan,
Aku tau diri,
Ketika dia memberi sinyal-sinyal rindu,
aku yakin,
tak lain itu hanyalah sekedar cemoohan dan candaan.

Aku tidak akan terlalu jauh untuk itu.
Aku benar-benar akan tetap tau diri,
Sebelum segalanya berbalik arah menyerang,
aku akan lebih dulu menyerah.

Aku tau diri,
aku mengenal diriku sendiri,
tak punya apa-apa selain kepatuhan
layaknya seorang hamba.

Aku tau diri,
semua imajinasi tak akan terealisasi.
Semua beban nasib akan tetap sama,
tak berubah, jadi..... tenang saja.

Aku tau diri,
kebahagiaan yang kumiliki cukup sederhana,
namun itu segalanya.

Tak perlu mencurigaiku,
tak perlu berprasangka terlalu rendah
ataupun terlalu agung.

Kau tak akan melihatku di tengah keramaian
ataupun pada titik kesepian yang menghilang.
Kau tak pernah tau apa isi hatiku.

Tenang saja, aku tau diri,
Tak perlu menyindir-nyindir lembut seperti itu.
Aku sudah cukup tau, mengerti, siapa aku.

Aku sangat tau diri, dari awal.
Pada akhirnya, dia tidak akan memilihku
selain karena bualan.

Tak perlu menduga-duga atau
merisaukan nasibku atas dosa yang menyedihkan.
Aku akan baik-baik saja, dengan apa yang
kualami sebelumnya, kini, dan nanti.

Kamis, 11 Juni 2015

Lots of Luck


Kebetulan saya berkunjung ke rumah sahabat saya Chici, disitu saya membaca suatu artikel renungan dari buku Spirit Girls edisi Maret 2015 yang bercerita mengenai seorang guru musik asal Kroasia "Frane Selak". Orang menganggap bahwa dia merupakan yang paling beruntung sedunia. Mengapa? Bayangkan saja ia dapat selamat pada berbagai kecelakaan yang dialaminya. Sebut saja, tahun 1962 ia selamat dari kecelakaan kereta, setahun kemudian ia juga selamat dari kecelakaan pesawat yang ia tumpangi, di mana pesawat itu mati sehingga 19 orang di penumpang tewas karena menghantam daratan, akan tetapi Selak justru selamat karena jatuh di atas tumpukan jerami. Sebuah kebetulan bukan? Selain itu tahun 1966, ia selamat dari bis yang jatuh ke sungai, lalu tahun 1970 dan 1973 mobil yang ia kendarai terbakar dan ia lagi-lagi selamat hanya rambutnya yang nggak selamat. Ada lagi 22 tahun setelah itu ia ditabrak bis, dan ia tetap selamat, lalu setahun kemudian mobilnya jatuh ke jurang dan meledak. Apakah ia selamat? Ya, Frane Selak selamat, ia berhasil melompat keluar dan  tersangkut di pohon sisi tebing. Bonusnya, pada tahun 2003 ia beruntung dengan memenangkan lotre senilai ratusan ribu dollar.
Frane Selak memang sangat beruntung, akan tetapi keberuntungan  yang dialaminya selalu bersamaan dengan kecelakaan mengerikan. Sama seperti pendapat di artikel, saya juga nggak mau seperti dia, emang beruntung tapi kehidupan saya lebih bahagia jadi saya bersyukur dengan apa yang saya jalani. Emang sih kadang saya nggak beruntung akan tetapi saya senang menjalaninya, karena inilah jalan hidup saya, jalan yang telah Tuhan tentukan. Suka tidak suka, mau tidak mau harus tetap dijalani dan bersyukur akan setiap hal yang terjadi.

Rabu, 04 Februari 2015

NOTHING !

Rabu, 04 Februari 2015
Hari ini akan diingat selalu, hari dimana tepat saya berada di titik terendah dalam hidup saya, hari dimana semua perasaan berkecamuk, hari dimana saya merasa sangat terpukul, hari dimana tepat Tuhan betul-betul menguji saya.
Hari ini, airmata yang keluar menjadi saksi, sahabat, dosen, teman-teman menjadi saksi saya menjatuhkan airmata saya, karena saya tidak sanggup dengan apa yang saya jalani, apa yang Tuhan siapkan untuk saya, saat dimana senua perasaan saya menjadi puncak. Kecewa, marah, benci, menyesal, sakit hati, berdosa, galau, stress, malu, kuat, dan sangat down.
Hari ini, saya betul-betul akan mengingatnya, hari dimana saya berjanji dalam hati saya.
Hari ini, sangat melelahkan.............................................

Jumat, 02 Januari 2015

Not Fiction, But Action

Beberapa film, khususnya film-film produksi barat nyatanya emang memiliki tema-tema yang menarik. Menarik karena tema-tema itu di luar imajinasi dan nggak bisa kita temuin di dunia nyata. Film Avatar contohnya, film yang mengangkat topik alien ini ceritanya lain dari kebanyakan film. Jika biasanya dikisahkan alien yang mencoba ngejajah planet kita, Avatar justru ngisahin usaha manusia yang ngejajah planet lain.Lalu ada juga cerita tentang Limitless. Yang ngangkat cerita tentang seorang pria yang secara nggak sengaja nemuin pil ajaib yang bisa bikin fisik dan otaknya bekerja secara luar biasa. Bahkan karena minum pil itu, ia bisa meeyelesaikan buku yang selama ini bikin dia stres hanya dalam waktu sehari atau dua hari, jadi best seller pula! Belum lagi film-film produksi Marvel, yang ngisahin tentang para superhero. Semuanya itu menarik, tapi tetap saja semua itu adalah film fiksi alias khayalan.
Nggak masalah kita nikmatin dunia-dunia khayal itu, tapi yang paling penting adalah jangan sampai kita sendiri juga hidup dalam dunia khayal. Cuma bisa berkhayal macam-macam, tapi nggak pernah ada usaha. Kita daoat meniru J.K. Rowling, yang bisa berkhayal kemana-mana tapi dituangkan jadi mahakarya.
Jika, someday kita ingin jadi anak yang bisa bikin orang tua meneteskan airmata terharu karena menang kompetisi? Kita jangan hanya berkhayal, akan tetapi mulai melakukan hal-hal yang perlu supaya bisa mewujudkan mimpi tersebut. Jika ingin sukses, mulai sekarang harus ubah cara hidup agar disiplin.
Life is not fiction, it's action! Berkhayal itu perlu, tetapi jangan berhenti sampai di situ saj. Kita harus mewujudnyatakan khayalan itu kewat usaha kita.


SpiritGirls September2014

Mengapa Aku, Tuhan?

Pada akhir tahun 1960-an, hidup seorang figur yang sangat gemilang di cabang olahraga tenis. Dia adalah Arthur Ashe. Prestasinya sebagai olahragawan begitu menyita perhatian publik pada saat itu karena ia adalah orang kulit hitam yang mampu menjuarai berbagai turnamen tenis di AS. Padahal pada saat itu, diskriminasi terhadap orang kukit hitam lagi kuat-kuatnya.
Sayangnya, ia kemudian mengidap HIV yang menular lewat tranfusi darah. Seorang wartawan pun mewawancarainya: "Anda memiliki berbagai prestasi di bidang tenis yang mengangkat kaum anda, anda memiliki istri yang cantik dan anak yang pintar. Tapi, saat ini anda mengidap HIV, apakah anda tidak bertanya kepada Tuhan, mengapa harus anda yang mengidap pwnyakit ini?
Dengan bijaksana, Arthur Ashe menjawab, "ada jutaan orang yang belajar tenis, ratusan di antaranya mahir bermain tenis, puluhan di antaranya mengikuti turnamen, tapi hanya satu yang pada akhirnya menang, yaitu saya. Ketika saya mengangkat piala turnamen Grand Slam tersebut, saya tidak pernah bertanya pada Tuhan, mengapa harus saya yang menang di dalam turnamen itu? Ketika kita tidak pernah menanyakan mengapa hal terbaik terjadi dalam hidup kita, seharusnya kita tidak perlu mengeluh juga ketika hal buruk menghadang dan bertanya kepada Tuhan: 'mengapa ini harus terjadi padaku?' "
Hal ini mengajarkan kita bahwa kita harus selalu bersyukur apapun keadaan maupun situasi yang kita alami, baik atau buruk, percayalah Tuhan selalu membantu kita.



SpiritGirls Juni2014