Ada waktu 'tuk berduka
Ada waktu 'tuk bersuka
Ada waktu 'tuk berdiam
Ada waktu 'tuk berkata ...
Namun diatas segalanya
ku tahu Allah ku bekerja
mendatangkan kebaikan bagi yang mengasihi-Nya ...
Di saat yang kualami
tak seperti yang kuingini
di saat tiada jawaban
mengapa harus terjadi ...
Namun diatas segalanya
ku tahu Allah ku bekerja
mendatangkan kebaikan bagi yang mengasihi-Nya ...
Reff:
Mungkin tak kupahami
apa yang kini aku alami
namun ku tahu pasti
Kasih Allahku takkan berhenti...
kan ku serahkan semua pergumulanku pada-Mu Yesus
karena ku tahu pasti semuanya kan jadi indah pada waktunya ...
Kamis, 26 November 2020
Minggu, 22 Januari 2017
Garis Waktu
GARIS WAKTU : "Sebuah Perjalanan Menghapus Luka"
by. Fiersa Besari
"beberapa
orang tinggal dalam hidupmu agar kau menghargai kenangan. beberapa
orang tinggal dalam kenangan agar kau menghargai hidupmu"
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya. Kemudian, satu orang tersebut akan menjadi bagian terbesar dalam agendamu. Dan hatimu takkan memberikan pilihan apa pun kecuali jatuh cinta, biarpun logika terus berkata bahwa risiko dari jatuh cinta adalah terjerembab di dasar nestapa.
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan. Yang paling menggiurkan setelahnya adalah berbaring, menikmati kepedihan dan membiarkan garis waktu menyeretmu yang niat-tak niat menjalani hidup. Lantas, mau sampai kapan? Sampai segalanya terlambat untuk dibenahi? Sampai cahayamu benar-benar padam? Sadarkah bahwa Tuhan mengujimu karena Dia percaya dirimu lebih kuat dari yang kau duga? Bangkit. Hidup takkan menunggu.
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu. Namun tiada guna, garis waktu takkan memperlambat gerakkannya barang sedetik pun. Ia hanya mampu maju, dan terus maju. Dan mau tidak mau, kita harus ikut terseret dalam alurnya. Maka, ikhlaskan saja kalau begitu. Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan.
“Beberapa
orang berhenti menyapa bukan karena perasaannya berhenti; melainkan
karena telah mencapai titik kesadaran untuk berhenti disakiti.”
“Lambat
laun kusadari, beberapa rindu memang harus sembunyi-sembunyi. Bukan untuk
disampaikan, hanya untuk dikirim lewat doa. Beberapa rasa memang harus
dibiarkan menjadi rahasia. Bukan untuk diutarakan, hanya untuk disyukuri
keberadannya.”
“Ketahuilah,
beberapa tangan melepaskan genggamannya saat hidupmu bertambah sulit agar
tanganmu kosong dan bisa digenggam oleh seseorang yang takkan pernah
melepaskanmu.”
Minggu, 15 Januari 2017
Sebuah Celah Harapan....
Entah mengapa selalu seperti ini. Selalu tidak nyaman rasanya memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu menjadi bahan pemikiran. Memang ini adalah masalah hati, tidak sepantasnya membawa-bawa pikiran terlampau jauh ke suatu arena di mana hati yang lebih berkuasa.
Mungkin memang aku terlalu memiliki rasa ingin tau yang tinggi terhadap celah-celah kecil yang tertutup. Ini bukan tentang 'aku' saja, tapi tentang kita semua yang memiliki rasa ingin tau di atas ambang batas kenormalan. Kadang tidak masuk akal. Kadang rasa ingin tau yang berlebihan seringkali disertai rasa sakit yang sebenar-benarnya. Sesuatu yang tidak seharusnya kita tau, sesuatu yang tidak sepantasnya kita jelajahi. Karena jika kita mengetahui hal-hal yang tidak seharusnya kita tau, kemungkinan besar kita akan kecewa, lalu terperangkap dalam permainan yang kita ciptakan sendiri.
Berat sekali rasanya mengabaikan bujukan hati untuk tidak terlalu jauh 'ingin' mengetahui kehidupan orang yang tidak wajib kita ketahui. Ketika kita mengagumi seseorang dengan beberapa sebab yang tidak terjabarkan, kita akan terdorong untuk mencari tau, mengamati, memperhatikan dari jarak sejauh apa yang bisa kita jangkau. Entah mengapa, terkadang rasakagum muncul bersamaan dengan rasa penasaran yang sangat mengganggu, mengajak untuk memainkan sebuah permainan di mana tak ada yag kalah dan menang. Permainan yang membingungkan. Namun, kita tetap mengikuti seruannya. Seruan untuk bermain-main dengan api.
Aku tak ingin mendeklarasikan cinta, tak ada sebab-sebab yang melatarbelakangi untuk melakukannya. Ketika kita terlanjur terjerat, ketika kita terlanjur tau tentang hal-hal yang sebenarnya tak perlu kita tau, kita akan pasrah pada beranekaragam perasaan yag memadati semua rongga. Dan ketika kita merasa semakin terhimpit dengan perasaan itu, yang ingin kita lakukan hanyalah ingin mematikan kobaran api yang sudah terlanjur menyala dalan jiwa. Meskipun sulit, namun perasaan yang tak beralasan dan tak mempunyai harapan itu harus segera dihentikan. Keuali jika kita percaya, ada tujuan yang mulia pada akhirnya, bukan sekedar rasa yang relatif hampa.
Kepada sebuah celah yang melubangi pikiran,
Ingin rasanya mengembalikan semua langkah yang terlanjur direntangkan. Sebelum aku membaca namamu di suatu situasi yang sepi. Ketika entah kenapa dengan tidak sopannya rasa penasaran ini muncul tiba-tiba, membuatku ingin mencari tau tentangmu. Lebih jauh... Lebih dekat...
Dengan berjuta situasi yang tak pasti, dan tentang harapan tentang kisah-kisah yang mungkin hanya akan menjadi sekedar harapan palsu yang tak terwujud. Aku ingin berterima kasih, karena kamu telah memberikan sedikit celah dalam pikiranku...
15/Jan/2017
Mungkin memang aku terlalu memiliki rasa ingin tau yang tinggi terhadap celah-celah kecil yang tertutup. Ini bukan tentang 'aku' saja, tapi tentang kita semua yang memiliki rasa ingin tau di atas ambang batas kenormalan. Kadang tidak masuk akal. Kadang rasa ingin tau yang berlebihan seringkali disertai rasa sakit yang sebenar-benarnya. Sesuatu yang tidak seharusnya kita tau, sesuatu yang tidak sepantasnya kita jelajahi. Karena jika kita mengetahui hal-hal yang tidak seharusnya kita tau, kemungkinan besar kita akan kecewa, lalu terperangkap dalam permainan yang kita ciptakan sendiri.
Berat sekali rasanya mengabaikan bujukan hati untuk tidak terlalu jauh 'ingin' mengetahui kehidupan orang yang tidak wajib kita ketahui. Ketika kita mengagumi seseorang dengan beberapa sebab yang tidak terjabarkan, kita akan terdorong untuk mencari tau, mengamati, memperhatikan dari jarak sejauh apa yang bisa kita jangkau. Entah mengapa, terkadang rasakagum muncul bersamaan dengan rasa penasaran yang sangat mengganggu, mengajak untuk memainkan sebuah permainan di mana tak ada yag kalah dan menang. Permainan yang membingungkan. Namun, kita tetap mengikuti seruannya. Seruan untuk bermain-main dengan api.
Aku tak ingin mendeklarasikan cinta, tak ada sebab-sebab yang melatarbelakangi untuk melakukannya. Ketika kita terlanjur terjerat, ketika kita terlanjur tau tentang hal-hal yang sebenarnya tak perlu kita tau, kita akan pasrah pada beranekaragam perasaan yag memadati semua rongga. Dan ketika kita merasa semakin terhimpit dengan perasaan itu, yang ingin kita lakukan hanyalah ingin mematikan kobaran api yang sudah terlanjur menyala dalan jiwa. Meskipun sulit, namun perasaan yang tak beralasan dan tak mempunyai harapan itu harus segera dihentikan. Keuali jika kita percaya, ada tujuan yang mulia pada akhirnya, bukan sekedar rasa yang relatif hampa.
Kepada sebuah celah yang melubangi pikiran,
Ingin rasanya mengembalikan semua langkah yang terlanjur direntangkan. Sebelum aku membaca namamu di suatu situasi yang sepi. Ketika entah kenapa dengan tidak sopannya rasa penasaran ini muncul tiba-tiba, membuatku ingin mencari tau tentangmu. Lebih jauh... Lebih dekat...
Dengan berjuta situasi yang tak pasti, dan tentang harapan tentang kisah-kisah yang mungkin hanya akan menjadi sekedar harapan palsu yang tak terwujud. Aku ingin berterima kasih, karena kamu telah memberikan sedikit celah dalam pikiranku...
15/Jan/2017
Selasa, 29 November 2016
Entahlah...
Entahlah...
kata ini terlalu sering saya ucapkan dalam hati belakangan ini.
Entahlah...
kenapa saya sering menyebutkan kata ini.
Entahlah...
arti dari kata entahlah yang saya sebutkan.
Entahlah...
mungkin juga karena lelah.
Entahlah...
mungkin juga karena ketidaktahuan saya akan 5 detik, 5 menit, 5 jam, 5 hari, 5 minggu, 5 bulan bahkan sampai 5 tahun ke depan.
Entahlah...
mungkin karena khawatir. Atau takut?
Entahlah...
mungkin takut dan khawatir mempunyai arti yang berbeda tetapi bagi saya dua kata itu memiliki keterkaitan.
Entahlah...
mungkin karena sesuatu yang terlalu terang. Silau.
Entahlah...
mungkin karena sisi lain sesuatu itu terlalu gelap. Seperti buta.
Entahlah...
mungkin karena saya terlalu sering menyebutkan mungkin.
Entahlah...
apa yang akan terjadi.
Entahlah...
kapan saya akan berhenti menyebutkan entahlah.
Entahlah...
mungkin jika saya menemukan jawabannya.
Entahlah...
apakah saya akan benar-benar berhenti ketika jawaban itu ditemukan.
Entahlah...
Minggu, 23 Oktober 2016
Layang-Layang
Suatu hari sebuah layang-layang berkata dalam hatinya, "Aku kesal. Aku ingin terbang tinggi, setinggi-tingginya tanpa ada yang menahan. Mengapa aku harus diikat dengan benang? Aku tidak bisa terbang dengan bebas!"
Anginpun bertiup kencang, dan layang-layang pun mulai berpikir untuk mendekati layangan lain, agar benangnya bisa putus. Layang-layang sangat ingin dapat terbang tinggi dan bebas. Maka, dengan dorongan angin, si layang-layang pun berusaha mendekati layangan lain, membiarkan benangnya bergesekan dengan benang mereka.
Dan akhirnya benang layang-layang pun putus.
Layang-layang berkata, "Akhirnya, putus juga! Sekarang aku bisa terbang bebas dan naik tinggi sesuai inginku!"
Akan tetapi, yang terjadi berbeda dengan yang diharapkan oleh layang-layang.
"Kenapa ini? Mengapa aku jatuh?"
Layang-layang itu jatuh dan tersangkut di atas pepohonan. Kata layang-layang dengan sedih, "Ah, aku tersangkut! Kenapa begini? Bukannya terbang tinggi, aku malah tersangkut di pepohonan."
Dan layang-layang mulai merenung kembali, dan dalam hatinya ia berkata, "Sekarang aku tahu. Justru karena aku terikat benang, sehingga aku bisa tetap melayang di udara. Ternyata benang itu yang membuat aku tetap terbang."
Hati manusia sama seperti layang-layang. Pada dasarnya manusia ingin hidup bebas sesuka hati, tanpa peduli akan nasihat dan didikan. Seringkali kta berpikir bahwa didikan dan nasihat adalah sesuatu yang mengekang kita. Padahal nasihat dan didikan sama halnya dengan benang pada layang-layang. Itulah yang dapat membuat kita terbang dan berhasil.
Saat hati kita membuat pilihan yang salah, nasihat dan didikan akan menarik kita untuk tetap ada di jalan yang benar. Saat hati kita mulai sombong karena berada di puncak keberhasilan, nasihat dan didikan akan menarik kita agar menjadi rendah hati.
Nasihat dan didikan didapat dari lingkungan sekeliling kita, tetapi yang paling terutama adala dari Tuhan.
Karena Tuhan adalah sumber nasihat dan didikan yang paling benar. Biarlah hati kita selalu terbuka untuk nasihat dan didikan, sehingga kita tetap dapat 'terbang melayang'.
Anginpun bertiup kencang, dan layang-layang pun mulai berpikir untuk mendekati layangan lain, agar benangnya bisa putus. Layang-layang sangat ingin dapat terbang tinggi dan bebas. Maka, dengan dorongan angin, si layang-layang pun berusaha mendekati layangan lain, membiarkan benangnya bergesekan dengan benang mereka.
Dan akhirnya benang layang-layang pun putus.
Layang-layang berkata, "Akhirnya, putus juga! Sekarang aku bisa terbang bebas dan naik tinggi sesuai inginku!"
Akan tetapi, yang terjadi berbeda dengan yang diharapkan oleh layang-layang.
"Kenapa ini? Mengapa aku jatuh?"
Layang-layang itu jatuh dan tersangkut di atas pepohonan. Kata layang-layang dengan sedih, "Ah, aku tersangkut! Kenapa begini? Bukannya terbang tinggi, aku malah tersangkut di pepohonan."
Dan layang-layang mulai merenung kembali, dan dalam hatinya ia berkata, "Sekarang aku tahu. Justru karena aku terikat benang, sehingga aku bisa tetap melayang di udara. Ternyata benang itu yang membuat aku tetap terbang."
Hati manusia sama seperti layang-layang. Pada dasarnya manusia ingin hidup bebas sesuka hati, tanpa peduli akan nasihat dan didikan. Seringkali kta berpikir bahwa didikan dan nasihat adalah sesuatu yang mengekang kita. Padahal nasihat dan didikan sama halnya dengan benang pada layang-layang. Itulah yang dapat membuat kita terbang dan berhasil.
Saat hati kita membuat pilihan yang salah, nasihat dan didikan akan menarik kita untuk tetap ada di jalan yang benar. Saat hati kita mulai sombong karena berada di puncak keberhasilan, nasihat dan didikan akan menarik kita agar menjadi rendah hati.
Nasihat dan didikan didapat dari lingkungan sekeliling kita, tetapi yang paling terutama adala dari Tuhan.
Karena Tuhan adalah sumber nasihat dan didikan yang paling benar. Biarlah hati kita selalu terbuka untuk nasihat dan didikan, sehingga kita tetap dapat 'terbang melayang'.
23 Oktober
Dari awal seharusnya memang ku hindari. Rasa ini tak seharusnya ada, tak harusnya ku terima. Harusnya aku mengatur diri sedemikian rupa, merantai segala pikiran agar tak menjalar ke sana. Dan membuatku terjatuh seperti saat ini.
Dulu ku kira ini hanya biasa, tak akan lama. Ku kira kau hanya akan berdampak baik, menjadi motivasi bagiku. Namun tak dapat dipungkiri saat ku membiarkan pikiran ini terbang sebegitu bebas, ancaman pun tak terelakkan. Semakin tinggi, semakin banyak angin yang menerpa.
Yaa benar begitu, semakin kau melambung jauh, semakin sakit saat terjatuh dan lepas. Semakin dipikirkan, tentu semakin dalam rasanya. Semkin di cari tahu, semakin banyak ruang yang akan dimasuki.
Aku mencari tahu dengan alasan menemukan kelemahan yang dapat membuatku melepas, namun kenyataan selalu terbalik. Aku bukan terlepas tetapi bahkan aku semakin tertarik dalam kehidupanmu.
Dari awal harusnya aku tahu, kita tak akan bersama, walau dalam hatiku terus berharap bahwa kau adalah yang selalu aku semogakan. Hatiku selalu diam-diam berharap akan dirimu.
Terlalu munafik jika sampai saat ini ku katakan kalau aku tak berharap. Dari awal saat pertama aku tak tak tahu apa yang membuatku sangat tertarik akan dirimu, aku merasa nyaman dan kamu berbeda.
Tetapi aku sadar diri, mungkin bukan aku yang menjadi inginmu. Bukan aku. Tetapi selalu ada rasa ingin, tetap ada rasa kesal dan sedih. Saat melihat, saat aku tahu dan berpikir ada orang lain yang kau ingini, ada orang lain yang lebih membuatmu tertarik, bukan aku.
Kita dipertemukan, bukan dipersatukan. Kalimat ini seakan selalu berputar di pikiranku, seakan menjadi alarm bahwa aku bukan yang kau inginkan. Penanda bahwa seharusnya dari awal aku tak seperti ini. Seharusnya aku bisa menjauh.
Tetapi, aku selalu memikirkan dirimu, aku seperti orang lain, tak biasanya aku seperti ini. Aku juga tak tahu apa yang membuat aku selalu memikirkan dirimu. Aneh, hanya itu yang bisa kukatakan.
Aku lelah dan ingin menyerah akan dirimu. Aku ingin menyudahi semua harapanku.Tapi berat untuk melepaskannya. Melepaskan atau bertahan tetap menyakitkan. Biarlah waktu yang berjalan, dan semuanya dapat berakhir. Dan semuanya bisa menjadi biasa tanpa dirimu di pikiranku.
Yaaa, seharusnya aku jangan terlalu berharap pada suatu pertemuan, karna terkadang Tuhan hanya mempertemukan bukan menyatukan...
Dulu ku kira ini hanya biasa, tak akan lama. Ku kira kau hanya akan berdampak baik, menjadi motivasi bagiku. Namun tak dapat dipungkiri saat ku membiarkan pikiran ini terbang sebegitu bebas, ancaman pun tak terelakkan. Semakin tinggi, semakin banyak angin yang menerpa.
Yaa benar begitu, semakin kau melambung jauh, semakin sakit saat terjatuh dan lepas. Semakin dipikirkan, tentu semakin dalam rasanya. Semkin di cari tahu, semakin banyak ruang yang akan dimasuki.
Aku mencari tahu dengan alasan menemukan kelemahan yang dapat membuatku melepas, namun kenyataan selalu terbalik. Aku bukan terlepas tetapi bahkan aku semakin tertarik dalam kehidupanmu.
Dari awal harusnya aku tahu, kita tak akan bersama, walau dalam hatiku terus berharap bahwa kau adalah yang selalu aku semogakan. Hatiku selalu diam-diam berharap akan dirimu.
Terlalu munafik jika sampai saat ini ku katakan kalau aku tak berharap. Dari awal saat pertama aku tak tak tahu apa yang membuatku sangat tertarik akan dirimu, aku merasa nyaman dan kamu berbeda.
Tetapi aku sadar diri, mungkin bukan aku yang menjadi inginmu. Bukan aku. Tetapi selalu ada rasa ingin, tetap ada rasa kesal dan sedih. Saat melihat, saat aku tahu dan berpikir ada orang lain yang kau ingini, ada orang lain yang lebih membuatmu tertarik, bukan aku.
Kita dipertemukan, bukan dipersatukan. Kalimat ini seakan selalu berputar di pikiranku, seakan menjadi alarm bahwa aku bukan yang kau inginkan. Penanda bahwa seharusnya dari awal aku tak seperti ini. Seharusnya aku bisa menjauh.
Tetapi, aku selalu memikirkan dirimu, aku seperti orang lain, tak biasanya aku seperti ini. Aku juga tak tahu apa yang membuat aku selalu memikirkan dirimu. Aneh, hanya itu yang bisa kukatakan.
Aku lelah dan ingin menyerah akan dirimu. Aku ingin menyudahi semua harapanku.Tapi berat untuk melepaskannya. Melepaskan atau bertahan tetap menyakitkan. Biarlah waktu yang berjalan, dan semuanya dapat berakhir. Dan semuanya bisa menjadi biasa tanpa dirimu di pikiranku.
Yaaa, seharusnya aku jangan terlalu berharap pada suatu pertemuan, karna terkadang Tuhan hanya mempertemukan bukan menyatukan...
Jumat, 21 Oktober 2016
Aku Berhenti
Hati apakah kau tau, aku masih menyimpan nama seseorang di sini
Hati apakah kau tau, aku masih mengingatnya di dalam diri
Hati apakah kau tau, aku selalu merindunya dalam sanubari
Hati apakah kau tau, rasa ini tak pernah pudar meski waktu telah terlewati
Aku hanya bisa menyimpannya dalam kebisuanku
Aku hanya bisa menyimpannya dalam rinduku
Aku hanya bisa menyimpannya dalam angan semuku
Semuanya hanya ku rajut dalam syahdu
Semuanya hanya ku tulis dalam kalbu
Di antara kita slalu terbentang jarak
Layaknya lautan yang selalu berombak
Hingga kini aku tak mampu menggapai
Sosok diri yang slalu menyelimuti diri
Melangkah pergi
Menjauhi diri
Mematikan setiap rasa di hati
Melupakan seseorang yang begitu berarti
Diri ini telah letih
Diri ini telah lelah
Berharap di antara kita terjadi kisah
yang kan berakhir indah
Biarlah rasa itu berhembus pergi
Sabarkan diri ini
Hingga sampai batas waktu yang terlewati
Agar hadirnya tak ku harapkan lagi...
Langganan:
Postingan (Atom)









