Minggu, 28 Februari 2021

Don't Compare Your Life to Others




 

 "Hidupnya enak, ya?"

Bagaimana rasanya? kalau melihat kehidupan orang lain di instagram?
mereka terlihat senang,
mereka terlihat kaya,
mereka terlihat baik-baik saja.
bahkan kadang kita sampai insecure setengah mati, gara-gara melihat hidup mereka, yang terlihat sangat sempurna.
Dia punya semuanya, hanya dengan modal fisik mereka.
 
Nggak adil ya rasanya?
kita yang berusaha mati-matian tidak mendapatkan apapun,
sedangkan mereka yang hobinya berleha-leha, party sana-sini, mendapatkan semua yang mereka mau.
 
Tapi kamu harus tahu,
mungkin mereka tidak bahagia, cuman mereka pandai menyembunyikannya.
mungkin mereka tidak baik-baik saja, cuman mereka tidak mengeluh.
 
coba deh, mulai lebih bersyukur
mungkin kita lebih kaya dari apa yang kita pikir, mungkin kita lebih bahagia dari apa yang kita rasain, kalau kita berhenti membandingkan hidup kita dengan orang lain.
 
Kita harus berhenti untuk banding-bandingkan hidup kita sama orang lain, kita nggak bakal bahagia kalau begitu terus, dan mereka yang "lebih" dari kita itu SANGAT BANYAK.
Jadi, nggak ada gunanya insecure dan overthinking karena orang lain.
 
 
cr. @ini.untukmu

Sabtu, 12 Desember 2020

Untuk aku, terima kasih karena ...

 
Sebelum kita mulai ucapkan terima kasih, aku rasa baiknya tulisan ini kamu baca dengan suasana hati tenang setelah menghela napas panjang.
Karena, pada setiap kata ada kekuatan yang berupaya membuatmu untuk selalu tegar.
Maka dari itu, teduhlah...


Terima kasih karena sudah bertahan
Pernah nggak ngerasa hidup itu berat banget, seperti hampir setiap saat ada cobaan yang selalu membuat kita ngerasa nggak sanggup lagi untuk jalanin ini semua.
Tapi pada akhirnya, saat ini juga kamu masih sanggup membaca tulisan ini, yang artinya kamu sudah memilih bertahan.
berterimakasih lah pada dirimu untuk kekuatan ini.

Terima kasih karena sudah menangis
Dikala dunia tidak sedang memihakmu, bahkan orang yang kamu sayang sedang meninggalkanmu.
Kamu memilih untuk menangis, kamu hebat
karena beranikan diri untuk jujur kepada dirimu tentang rasa sakit itu, setidaknya setelah terisak semalaman, kamu akan merasa sedikit tenang.

Terima kasih karena sudah tersenyum
Dikala hari yang rasanya sangat berat, mungkin tanpa sadar kamu sempat selipkan senyum walau cuma sedetik saja.
berterimakasih lah akan senyum itu
karena bahkan saat waktu mulai berdusta,
dirimu akan selalu menopang,
dirimu lah yang akan selalu bersamamu,
dirimu lah yang akan melewati semua ini

Terima kasih banyak
atas segala perjuangan untuk aku
sangat bersyukur lahir ke dunia sebagai aku
walau mungkin, nasib setiap orang pasti berbeda
namun bersama diriku, melewati semuanya terasa lebih baik. Perjuangan, pengorbanan dan semangat yang senantiasa bersamaku selalu

Maka, dalam kesempatan ini,
aku ingin mengajak kalian semua yang sudah berterimakasih pada diri sendiri untuk memeluk ragamu dengan erat, menepuk pundak dan bernafaslah dengan panjang.
 
Terimakasih untuk hari ini
Semoga besok jadi lebih baik
 
 
 
 
cr. @ini.untukmu 

Kamis, 26 November 2020

"Indah Pada Waktunya"



Ada waktu 'tuk berduka
Ada waktu 'tuk bersuka
Ada waktu 'tuk berdiam
Ada waktu 'tuk berkata ...

Namun diatas segalanya
ku tahu Allah ku bekerja
mendatangkan kebaikan bagi yang mengasihi-Nya ...

Di saat yang kualami
tak seperti yang kuingini
di saat tiada jawaban
mengapa harus terjadi ...

Namun diatas segalanya
ku tahu Allah ku bekerja
mendatangkan kebaikan bagi yang mengasihi-Nya ...

Reff:
Mungkin tak kupahami
apa yang kini aku alami
namun ku tahu pasti
Kasih Allahku takkan berhenti...
kan ku serahkan semua pergumulanku pada-Mu Yesus
karena ku tahu pasti semuanya kan jadi indah pada waktunya ... 

Minggu, 22 Januari 2017

Garis Waktu


GARIS WAKTU : "Sebuah Perjalanan Menghapus Luka"
by. Fiersa Besari
"beberapa orang tinggal dalam hidupmu agar kau menghargai kenangan. beberapa orang tinggal dalam kenangan agar kau menghargai hidupmu"

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya. Kemudian, satu orang tersebut akan menjadi bagian terbesar dalam agendamu. Dan hatimu takkan memberikan pilihan apa pun kecuali jatuh cinta, biarpun logika terus berkata bahwa risiko dari jatuh cinta adalah terjerembab di dasar nestapa.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan. Yang paling menggiurkan setelahnya adalah berbaring, menikmati kepedihan dan membiarkan garis waktu menyeretmu yang niat-tak niat menjalani hidup. Lantas, mau sampai kapan? Sampai segalanya terlambat untuk dibenahi? Sampai cahayamu benar-benar padam? Sadarkah bahwa Tuhan mengujimu karena Dia percaya dirimu lebih kuat dari yang kau duga? Bangkit. Hidup takkan menunggu.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu. Namun tiada guna, garis waktu takkan memperlambat gerakkannya barang sedetik pun. Ia hanya mampu maju, dan terus maju. Dan mau tidak mau, kita harus ikut terseret dalam alurnya. Maka, ikhlaskan saja kalau begitu. Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan.



“Beberapa orang berhenti menyapa bukan karena perasaannya berhenti; melainkan karena telah mencapai titik kesadaran untuk berhenti disakiti.”

“Lambat laun kusadari, beberapa rindu memang harus sembunyi-sembunyi. Bukan untuk disampaikan, hanya untuk dikirim lewat doa. Beberapa rasa memang harus dibiarkan menjadi rahasia. Bukan untuk diutarakan, hanya untuk disyukuri keberadannya.”
 
“Ketahuilah, beberapa tangan melepaskan genggamannya saat hidupmu bertambah sulit agar tanganmu kosong dan bisa digenggam oleh seseorang yang takkan pernah melepaskanmu.”
 
 
pada akhirnya, jemari akan menemukan genggaman yang tepat, kepala akan menemukan bahu yang tepat, hati akan menemukan rumah yang tepat ...

Minggu, 15 Januari 2017

Sebuah Celah Harapan....

Entah mengapa selalu seperti ini. Selalu tidak nyaman rasanya memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu menjadi bahan pemikiran. Memang ini adalah masalah hati, tidak sepantasnya membawa-bawa pikiran terlampau jauh ke suatu arena di mana hati yang lebih berkuasa.
Mungkin memang aku terlalu memiliki rasa ingin tau yang tinggi terhadap celah-celah kecil yang tertutup. Ini bukan tentang 'aku' saja, tapi tentang kita semua yang memiliki rasa ingin tau di atas ambang batas kenormalan. Kadang tidak masuk akal. Kadang rasa ingin tau yang berlebihan seringkali disertai rasa sakit yang sebenar-benarnya. Sesuatu yang tidak seharusnya kita tau, sesuatu yang tidak sepantasnya kita jelajahi. Karena jika kita mengetahui hal-hal yang tidak seharusnya kita tau, kemungkinan besar kita akan kecewa, lalu terperangkap dalam permainan yang kita ciptakan sendiri.
Berat sekali rasanya mengabaikan bujukan hati untuk tidak terlalu jauh 'ingin' mengetahui kehidupan orang yang tidak wajib kita ketahui. Ketika kita mengagumi seseorang dengan beberapa sebab yang tidak terjabarkan, kita akan terdorong untuk mencari tau, mengamati, memperhatikan dari jarak sejauh apa yang bisa kita jangkau. Entah mengapa, terkadang rasakagum muncul bersamaan dengan rasa penasaran yang sangat mengganggu, mengajak untuk memainkan sebuah permainan di mana tak ada yag kalah dan menang. Permainan yang membingungkan. Namun, kita tetap mengikuti seruannya. Seruan untuk bermain-main dengan api.
Aku tak ingin mendeklarasikan cinta, tak ada sebab-sebab yang melatarbelakangi untuk melakukannya. Ketika kita terlanjur terjerat, ketika kita terlanjur tau tentang hal-hal yang sebenarnya tak perlu kita tau, kita akan pasrah pada beranekaragam perasaan yag memadati semua rongga. Dan ketika kita merasa semakin terhimpit dengan perasaan itu, yang ingin kita lakukan hanyalah ingin mematikan kobaran api yang sudah terlanjur menyala dalan jiwa. Meskipun sulit, namun perasaan yang tak beralasan dan tak mempunyai harapan itu harus segera dihentikan. Keuali jika kita percaya, ada tujuan yang mulia pada akhirnya, bukan sekedar rasa yang relatif hampa.

Kepada sebuah celah yang melubangi pikiran,
Ingin rasanya mengembalikan semua langkah yang terlanjur direntangkan. Sebelum aku membaca namamu di suatu situasi yang sepi. Ketika entah kenapa dengan tidak sopannya rasa penasaran ini muncul tiba-tiba, membuatku ingin mencari tau tentangmu. Lebih jauh... Lebih dekat...
Dengan berjuta situasi yang tak pasti, dan tentang harapan tentang kisah-kisah yang mungkin hanya akan menjadi sekedar harapan palsu yang tak terwujud. Aku ingin berterima kasih, karena kamu telah memberikan sedikit celah dalam pikiranku...



15/Jan/2017

Selasa, 29 November 2016

Entahlah...


Entahlah... 
kata ini terlalu sering saya ucapkan dalam hati belakangan ini. 
Entahlah... 
kenapa saya sering menyebutkan kata ini. 
Entahlah... 
arti dari kata entahlah yang saya sebutkan.  
Entahlah... 
mungkin juga karena lelah.
Entahlah... 
mungkin juga karena ketidaktahuan saya akan 5 detik, 5 menit, 5 jam, 5 hari, 5 minggu, 5 bulan bahkan sampai 5 tahun ke depan.
Entahlah... 
mungkin karena khawatir. Atau takut?
Entahlah... 
mungkin takut dan khawatir mempunyai arti yang berbeda tetapi bagi saya dua kata itu memiliki keterkaitan.
Entahlah... 
mungkin karena sesuatu yang terlalu terang. Silau.
Entahlah... 
mungkin karena sisi lain sesuatu itu terlalu gelap. Seperti buta.
Entahlah... 
mungkin karena saya terlalu sering menyebutkan mungkin.
Entahlah...
apa yang akan terjadi.
Entahlah... 
kapan saya akan berhenti menyebutkan entahlah.
Entahlah... 
mungkin jika saya menemukan jawabannya.
Entahlah... 
apakah saya akan benar-benar berhenti ketika jawaban itu ditemukan.
Entahlah...

Minggu, 23 Oktober 2016

Layang-Layang

Suatu hari sebuah layang-layang berkata dalam hatinya, "Aku kesal. Aku ingin terbang tinggi, setinggi-tingginya tanpa ada yang menahan. Mengapa aku harus diikat dengan benang? Aku tidak bisa terbang dengan bebas!"
Anginpun bertiup kencang, dan layang-layang pun mulai berpikir untuk mendekati layangan lain, agar benangnya bisa putus. Layang-layang sangat ingin dapat terbang tinggi dan bebas. Maka, dengan dorongan angin, si layang-layang pun berusaha mendekati layangan lain, membiarkan benangnya bergesekan dengan benang mereka.
Dan akhirnya benang layang-layang pun putus.
Layang-layang berkata, "Akhirnya, putus juga! Sekarang aku bisa terbang bebas dan naik tinggi sesuai inginku!"
Akan tetapi, yang terjadi berbeda dengan yang diharapkan oleh layang-layang.
"Kenapa ini? Mengapa aku jatuh?"
Layang-layang itu jatuh dan tersangkut di atas pepohonan. Kata layang-layang dengan sedih, "Ah, aku tersangkut! Kenapa begini? Bukannya terbang tinggi, aku malah tersangkut di pepohonan."
 Dan layang-layang mulai merenung kembali, dan dalam hatinya ia berkata, "Sekarang aku tahu. Justru karena aku terikat benang, sehingga aku bisa tetap melayang di udara. Ternyata benang itu yang membuat aku tetap terbang."

Hati manusia sama seperti layang-layang. Pada dasarnya manusia ingin hidup bebas sesuka hati, tanpa peduli akan nasihat dan didikan. Seringkali kta berpikir bahwa didikan dan nasihat adalah sesuatu yang mengekang kita. Padahal nasihat dan didikan sama halnya dengan benang pada layang-layang. Itulah yang dapat membuat kita terbang dan berhasil.
Saat hati kita membuat pilihan yang salah, nasihat dan didikan akan menarik kita untuk tetap ada di jalan yang benar. Saat hati kita mulai sombong karena berada di puncak keberhasilan, nasihat dan didikan akan menarik kita agar menjadi rendah hati.
Nasihat dan didikan didapat dari lingkungan sekeliling kita, tetapi yang paling terutama adala dari Tuhan.
Karena Tuhan adalah sumber nasihat dan didikan yang paling benar. Biarlah hati kita selalu terbuka untuk nasihat dan didikan, sehingga kita tetap dapat 'terbang melayang'.